Minggu, 02 Januari 2011

2011 - Catatan Dahlan Iskan

Ekonomi Lebih Baik, Hanya Terganggu Harga Minyak

Bangun Apa Saja dengan Modal Hemat Rp 2 Triliun

Oleh Dahlan Iskan
*) Direktur Utama PT PLN


Indonesia akan tetap jadi salah satu bintang ekonomi dunia pada 2011. Tidak ada satu pun faktor yang membuat Indonesia tidak lebih baik. Dari sektor yang kini saya tangani, sinyal itu terlihat lebih jelas. Sektor listrik yang merupakan penggerak utama ekonomi jauh membaik pada  2011.

Dua minggu lalu, ketika ke Sumut, saya minta diantar ke Kawasan Industri Medan (KIM). Saya dengar di kawasan ini sudah  berhasil dibangun satu pabrik keramik yang sangat besar dengan investasi hampir Rp 1 triliun. Pabrik itu tidak bisa dijalankan karena tidak mendapatkan listrik.

Ternyata benar. Bahkan, pembangunan pabrik tersebut sudah selesai sejak dua tahun lalu. Pabrik itu dibangun dengan serius. Mesin-mesinnya baru buatan Eropa. Tapi, nganggur. Saya bayangkan berapa bunga yang harus dibayar investornya  setiap bulan. Berapa banyak tenaga kerja yang mestinya bisa tertampung di situ. Berapa besar  devisa yang bisa diperoleh karena keramik tersebut sudah punya pasar di Taiwan. Tentu, saya tidak bisa melihat hal seperti itu. Saya minta teman-teman di Medan segera mengalirkan listrik ke pabrik itu.

Di Jakarta saya juga menerima surat dan SMS yang sangat banyak. Asalnya dari kalangan industri. Isinya minta tambahan listrik. Mereka berencana  mengembangkan usaha pada  2011. Tentu, tidak baik kalau saya melayani permintaan seperti itu satu per satu. Karena itu, saya umumkan saja secara terbuka melalui iklan di surat kabar: pengusaha yang memerlukan listrik silakan hubungi e-mail PLN. Pada 15 Desember 2010,  permintaan itu, berapa pun besarnya, akan dipenuhi oleh PLN.

Ketika mengumumkan itu, kami mengira permintaan listrik dari pengusaha akan mencapai 1.000 MW. Karena itu, acara pada 15 Desember 2010 tersebut kami beri nama ”Kado 1.000 MW untuk Pengusaha”.

Ternyata meleset. Permintaan itu mencapai 1.600 MW. Satu jumlah yang amat besar. Yang saya bayangkan adalah: tahun 2011 akan sangat bergairah. Dari permintaan listrik itu saja, sudah bisa diketahui berapa ribu pabrik yang akan mengembangkan usahanya. Berapa tenaga kerja yang akan terserap ke dalamnya. Bahkan, salah satu perusahaan yang minta listrik tersebut ternyata pabrik baja baru yang akan membangun pabrik lebih besar daripada Krakatau Steel.

Ketika saya mendampingi wakil presiden ke Ambalat di perbatasan dengan Malaysia pertengahan Desember, direktur Bank Papan mengungkapkan kegembiraannya bahwa banyak kredit macet di banknya yang membaik. Mengapa? Sebab, para pengusaha perumahan (real estate) sudah mulai bisa menjual rumah mereka. Ini juga karena perumahan mulai mendapatkan listrik. Gerakan ”satu hari satu juta sambungan” yang diadakan PLN pada  27 Oktober 2010 ternyata bukan hanya menyenangkan para pemilik rumah, tapi juga menyelesaikan banyak persoalan kredit macet.

Pengurus Pusat REI (Real Estate Indonesia) memang merasa sangat tertolong oleh gerakan sehari sejuta sambungan itu. Apalagi kami masih akan memprogramkan bahwa pada Mei 2011 ini akan ada lagi gerakan sejuta sambungan. Bahkan, pada  2011 ini, seluruh daftar tunggu di seluruh Indonesia harus sudah tidak ada lagi. Artinya, orang yang memerlukan listrik bisa langsung mendapatkan listriknya. Kecuali yang rumahnya amat jauh dari jaringan listrik, yang untuk melayaninya masih memerlukan pembangunan tiang-tiang listrik yang banyak. Untuk yang seperti ini, memang banyak pekerjaan pendahuluan yang harus diselesaikan.

Dari mana PLN memiliki listrik yang demikian banyak?

Listrik itu, untuk Jawa,  sebenarnya ada. Hanya saja, selama ini terjadi bottle-neck dalam penyalurannya. Untuk menyalurkan listrik itu diperlukan infrastruktur yang banyak. Mulai dari gardu induk tegangan ekstra tinggi (GITET) sampai ke trafo-trafo distribusi. Pada akhir 2010,  PLN sudah mendatangkan lima trafo IBT untuk lima GITET di sekitar Jakarta. Sembilan trafo IBT lagi akan tiba awal tahun 2011 untuk Jabar, Jateng, dan Jatim. Termasuk untuk mengganti trafo GITET Krian (Sidoarjo, Jatim) yang dulu dipinjam Cawang ketika GITET di Jakarta Timur itu meledak pada  2009.

Demikian juga trafo distribusi.  Pada akhir 2010, PLN membeli hampir 10.000 unit trafo distribusi. Ini pembelian trafo terbesar yang pernah dilakukan PLN dalam satu periode. Kebetulan, dengan perubahan sistem pengadaan,  PLN kini bisa membeli trafo GITET maupun trafo distribusi dengan harga hanya separo daripada  harga pembelian dulu.

Dari mana PLN tiba-tiba punya uang? Bisa membeli begitu banyak trafo?

Selama 2010,  dari berubahnya sistem pembelian, direktur pengadaan strategis bisa menghemat uang Rp 2 triliun! Sebuah penghematan yang bisa dipakai untuk membangun apa saja! Pada 2011, perubahan sistem pembelian itu akan dilanjutkan ke bidang pembelian suku cadang. Masih besar peluang untuk berhemat di sektor pembelian spare-part itu.

Jangan dilupakan pula, pada 2011 ini akan ada tambahan listrik 5.000 MW. Ini sama saja dengan stimulus ekonomi senilai Rp 75 triliun. Tidak mungkin stimulus yang begitu besar tidak mampu menggerakkan ekonomi.

Ekonomi pada 2011, dengan demikian, akan lebih baik.  Setidaknya, tidak akan lebih buruk. Satu-satunya penghambat adalah kenaikan harga minyak mentah yang di luar kendali kita.  Apalagi target produksi minyak mentah kita, rasanya, tidak tercapai tahun ini. Padahal,  targetnya hanya 986.000 barel.  Kalau saja produksi minyak mentah kita sangat baik, tentu justru kita yang akan ikut menikmati lonjakan harga minyak mentah dunia itu.

Politik tidak akan lebih buruk tahun ini. Bahkan, bisa lebih baik. Kabar penyederhanaan partai lewat undang-undang yang kini sedang dibahas juga modal yang baik bagi kemajuan dan kematangan bangsa. Pada 2010,  energi kita habis untuk Bank Century. Pada 2011, tidak perlu ada heboh-heboh seperti itu.

Tahun 2011, tahun kelinci ini, akan membuat siapa pun yang lincah akan menguasai keadaan!  (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar